Seorang wanita impian yang dulu menghilang, kini muncul kabarnya,.
Jejaring sosial mempertemukan kita seperti sedia kala,.
Membawa kembali semua rasa yang dulu pernah kau beri setulus hati bersama angan dan cita-cita yang masih berkobar sedari dulu,.
Ya, kamu. .
Sebenarnya ingin aku pergi menjauh. Sulit rasanya jika akhirnya aku harus berjuang membuang rasa ini seperti pertama kali kau pergi.
Sesekali aku berteriak di tepi pantai yang berlomba suara dengan deburan ombak,
Agar mereka pun tahu aku marah, aku ingin mengeluarkan semua kekecewaanku bersama suaramu, bersama angin.
6 tahun sudah, susah.
6 tahun hilang, pergi.
6 tahun sirna, semu.
Seringkali aku mencoba menjalani dengan sosok lain yang menggambarkanku indah, namun bayangmu hadir, namun semu, karena aku tahu tak dapat kuharapkan lagi.
Tapi sekarang, kau lihat?
Kau mencariku?
Entah senang atu sedih rasaku.
Namun, aku mencoba mengindahkan saat saat ini bersamamu.
Kembali lagi kau menceritakan kepahitan yang sama untukku.
Perjodohan itu sebenarnya membuatku gila, saat itu.
Namun aku tak mengerti apa motifmu?
Mereka-reka aku mencerna alasanmu, mengawang-awang membaca pikiranmu, namun tetap hatiku yang melukis. Aku akan membahagiakanmu sebisaku. Sekuatku. Sampai pada akhirnya aku harus menghadapi hari pesakitan (bagiku) itu.
Kami berjalan di tempat dan latar yang berbeda dengan dulu.
Kini Terbuka. Dan samua tahu.
Sesekali terbisik celoteh ibu yang mengingatkanku akan bom waktu.
Ya, aku sadar, sangat sangat sadar.
Namun aku telah memilih, sudah memilih.
Tibalah saat hari pesakitan itu.
Betapa sadar aku telah berkali kali sakit namun mencobanya kembali, terus menerus.
Semua ini terasa candu, bagiku.
Sakit yang terasa mengebal dan seolah menghasilkan imun sendiri hagi hatiku.
kau menghampiri,, namun tak memiliki,,
kau menghampiri,, namun tak memiliki,,
Namun, aku masih tersenyum, bahagia, terutama melihatmu.
#untuk kaka tercinta,, yang tepisah hati dan cinta oleh seorang wanita :)
No comments:
Post a Comment